Estafet Demo : Dari Mahasiswa Hingga Siswa pelajar Jakarta

Estafet Demo : Dari Mahasiswa Hingga Siswa pelajar Jakarta

Estafet Demo : Dari Mahasiswa Hingga Siswa pelajar Jakarta

Keputusan DPR yang telah mengesahkan UU KPK memicu kemarahan dari segala penjuru Indonesia. Banyak kalangan yang memprotes dan menyayangkan UU ini. Namun meski begitu, nampaknya DPR tidak mau terlalu memusingkan pendapat para masyarakat baik dari civitas akademika, para ahli, ketua lembaga, pejabat dan pengamat hukum dan politik yang lain.

Pasalnya pada siding paripurna, DPR akhirnya mengesahkan UU KPK yang akan di jalankan dalam kurun waktu 30 hari kedepan.

Selain UU KPK, RUU KUHP pun juga menuai banyak kritik dari berbagai elemen masyarakat.

Tak ingin hanya berkomentar saja, mahasiswa pun kompak melakukan aksi demo sebagai bentuk protes dan juga penolakan terhadap DPR RI.

Aksi mahasiswa tersebut di mulai dari aksi aksi di berbagai daerah seperti Malang, Solo, Semarang, Bandung, dan daerah daerah lain di Jakarta.

Puncaknya, pada Selasa 24 September, puluhan ribu mahasiswa dari berbagai universitas di penjuru Indonesia bersatu melakukan aksi di depan Gedung DPR RI hingga malam hari.

Meski sebelumnya telah banyak menunjukkan penolakan terhadap UU KPK dan RUU KUHP, ternyata DPR dan pemerintah masih juga belum memberikan tanggapan dan respon yang memuaskan untuk tuntutan dari mahasiswa ini.

Hingga pada akhirnya demo yang awalnya masih berjalan kondusif menjadi ricuh pada Selasa Malam hingga petugas keamanan dari Polri dan TNI terpaksa menembakkan gas air mata.

Meski begitu, aksi mahasiswa tak langsung berhenti. Bahkan mahasiswa sempat berhasi merengsek hingga merusak pagar tepi bangunan DPR.

Jika aksi mahasiswa Semarang di gedung DPR berhasil di tenangkan setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo  bersedia menemui mahasiswa yang berdemo serta menandatangi maklumat dan tuntuntan mahasiswa, namun nampaknya aksi mahasiswa di Gedung DPR Senayan Jakarta masih jauh dari kata usai.

Pasalnya tidak ditemui pimpinan DPR maupun Presiden yang menunjukkan diri di depan para pendemo.

 

Aksi Masih Terus Berlanjut

Pada akhirnya karena gelombang penolakan yang terus memanas, pemerintah memutuskan untuk menunda RUU KUHP yang seharusnya segera di sahkan pemerintah.

Namun ternyata, bukan penundaan yang di inginkan oleh para mahasiswa di Indonesia.

Setelah diundang di berbagai acara stasiun televise seperti Indonesian Lawyer Clup, Mata Najwa, dan lain lain, perwakilan mahasiswa menyampaikan bahwa mereka tidak ingin RUU KUHP hanya di tunda.

Mahasiswa ingin RUU KUHP, di hapus, di cabut, di batalkan kembali dan di lakukan pengkajian ulang dengan melibatkan berbagai pihak dan juga lintas ilmu yang berbeda.

Menurut Ketua BEM UGM Aliatul Muqtadir yang biasa di panggil Fathur, respon pemerintah untuk menunda RUU KUHP hanyalah bentuk upaya pemerintah agar eskalasi mahasiswa menyurut dan melupakan tujuan utama dari demo yang di lakukan.

Bahkan menurutnya pemerintah dan media telah salah menyoroti substansi dari demo yang mereka lakukan dengan membahas pihak ‘penunggang’ serta aksi bakar membakar dan perusakan fasilitas Negara.

Setelah aliansi mahasiswa melakukan aksi dengan melibatkan puluhan ribu mahasiswa di gedung DPR senayan pada selasa 24 September 2019, kini aksi demo penolakan UU KPK dan RUU KUHP di teruskan oleh siswa pelajar yang terdiri dari pelajar SMP, SMA dan SMK dan STM dari berbagai sekolah di Jabodetabek.

Aksi para siswa ini di lakukan sejak siang pukul 14.00 di depan gedung DPR Jakarta dengan cara yang cukup damai.

Mereka membawa spanduk dan poster yang berisi tulisan penolakan dan tuntutan mereka. Namun sayangnya aksi tak kunjung usai hingga sore hari menjelang malam. Bahkan beberapa siswa mulai melakukan aksi rusuh dengan menyerang petugas, membakar dan melempari batu.

Akhirnya petugas menangkap 570 pelajar yang melakukan aksi demo dan memanggil para orang tua/ wali murid untuk menjemput anak anak nya.

Ketika di Tanya, para siswa mengaku ingin mengikuti dan melanjutkan perjuangan kakak mahasiswa mereka.

Saat ini para mahasiswa masih menyusun strategi yang tepat untuk dapat menegakkan keadilan dan mncapai tujuan mereka

“Aksi kami tidak selesai. Kami masih menyusun strategi bersama teman teman aliansi mahasiswa untuk selanjutnya” ungkap Fathur.

 

Add Comment