Isu Radikalisme Di Kemenkeu, Sri Mulyani Tanggap Lakukan Ini

Dalam sebuah acara kumpul bareng para tokoh Indonesia bertemakan kebangsaan, Sri Mulyani pun menceritakan mengenai radikalisme yang ada di dalam kementerian yang ia pimpin yakni kementerian keuangan.

Didalam ceritanya, Sri Mulyani menceritakan bagaimana dirinya mendapat laporan bahwa di dalam kementeriannya telah banyak gerakan gerakan religious yang sifatnya eksklusif hingga mengkotak- kotakkan para pegawai di dalam kemenkeu.

“Menjelang pemilu kemarin itu saya observasi di kemenkeu ada di bawah ketegangan. Bawahan saya jadi visible keagamaannya, mulai dari appearance menunjukkan identitas. Bahkan untuk beberapa dia mengkotak- kotak ekslusif da nada ketegangan.” Ujar Sri Mulyani

Mengenai hal tersebut, dirinya tak menampik jika sering mendapat pesan dari pihak lain/ luar yang melihat gerakan garakan keagamaan yang mulai memasuki kemenkeu.

Dirinya juga mengaku bahwa mengurus masalah tersebut jauh lebih berat di banding mengurus keuangan negara.

Ketika dirinya mendapat laporan mengenai gerakan radikalisme di dalam kementeriannya, hal yang pertama dia lakukan adalah mencari sumbernya

“Semenjak jadi Menkeu, sering dapat WA, ‘bu tempat ibu ada yang radikal’. Orang ngomong gini ada maksudnya kan, apakah fitnah maka harus di clear-kan. Atau ada asap ada apinya, maka saya cari ada nggak apinya disini” ujar Sri Mulyani.

“Dalam konteks ini lah kami buat conversation, dalam sebuah rapat pimpinan usai pemilu saya ajak semua bicara” sambungnya.

Isu Radikalisme Di Kemenkeu, Sri Mulyani Tanggap Lakukan Ini

Forum Bicara Nilai Kebangsaan Dengan Bawahan

Dalam rapat tersebut, barulah dia mengajak berdialog dengan para bawahannya terkait nilai kebangsaan. Sri Mulyani meminta kepada para bawahannya aga bisa bersikap netral dalam semua hal baik sikap politik maupun penampilan.

Di forum tersebut Sri Mulyani juga secara terbuka menerima keluh kesah dair bawahannya mengenai apa yang mereka rasakan.

“Saya datangi mereka, saya Tanya kenapa kamu begini, sampai di instagram juga memposting hal yang kurang bagus. Ini hak kamu, saya nggak masalah, tapi kamu pejabat bawa nama instansi nggak fit, nggak pas kalau kayak gini. Kita harus netral” ujarnya mengisahkan pembicaraan dengan bawahannya.

“Akhirnya ya semua terbua, itu jadi forum terbuka semua boleh bicaram bergantian. Saya juga minta jangan ada rekaman jadi its safe place untuk bercerita.” Tukasnya.

Alasan kenapa Sri Mulyani mengaku lebih lelah mengurus masalah isu kebangsaan dan radikalisme yang ada di dalam lembaga yang ia pimpin daripada mengurus keuangan negara adalah karena waktu yang harus ia habiskan untuk mengurus masalah itu bisa di bilang cukup lama

Saking lamanya, forum tersebut bisa berakhir hingga tengah malam dan pasti membuat dirinya lelah. Namun dirinya juga tidak memungkiri bahwa sebenarnya juga memiliki kewajiban untuk hal itu. Justru moment pertemuan seperti itu merupakan kesempatan baginya untuk bisa mengurus masalah nilai nilai kebangsaan di antara bawahannya.

“Energi saya terkuras habis, ngurusin hal ini. Capek. Ini lebih susah daripada ngurusin keuangan negara. Sampai jam 12 itu lebih saya buka conversation sama mereka” ujar Sri Mulyani

Add Comment