Pentingnya Pendidikan Politik Menjelang Pilkada Serentak Juni 2018

Menjelang Pilkada serentak yang sudah ditetapkan oleh KPU RI (Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia) pada tanggal 27 Juni mendatang mendapatkan sambutan sangat hangat dari berbagai elemn di masyarakat Indonesia. Menurut data yang berhasil dihimpun, ada 171 daerah yang akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah serentak ini.

Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh setiap daerah supaya Pilkada mendatang berlangsung secara aman, nyaman dan juga bersih dari politik uang. Meskipun begitu, sayangnya tidak banyak daerah yang memberikan pendidikan politik terhadap masyarakatnya.  Padahal, hal ini sangat penting bagi suatu daerah guna mendapatkan calon pemimpin yang potensial.

5 Alasan Pentingnya Pendidikan Politik

Di bawah ini adalah beberapa poin dari betapa pentingnya memberikan pembekalan berupa pendidikan dalam politik kepada masyarakat di daerah.

  1. Menambah Wawasan Publik

pendidikan politik

Kunci utama dalam sebuah kesuksesan proses pemilihan kepala daerah ada di tangan rakyat. Jadi, apabila rakyat yang akan memilih sudah cerdas dan juga dewasa dalam memahami demokrasi. Maka hal ini bisa menjadi tolak ukur dalam keberhasilan memilih pemimpin yang tepat.

  1. Menghasilkan Pemimpin Berkualitas

pendidikan politik

Di samping itu, apabila rakyat memahami peranannya sebagai pengawas pemerintah maka tentunya akan membuatnya lebih teliti dalam memutuskan untuk mendukung seorang calon. Karena memiliki pertimbangan logis berdasarkan bibit, bebet serta bobotnya.

Sebab sistem demokrasi di Indonesia masih terbilang sangat muda, sehingga seringkali diwarnai dengan peristiwa yang kadang tidak masuk akal. Hal ini beberapa kali terjadi, baik dengan fisik ataupun non fisik.

  1. Supaya Tidak Apatis

pendidikan politik

Mengapa pendidikan politik menjelang pilkada menjadi sangat penting? Sikap apatis masyarakat Indonesia terhadap pemilu memang terbilang sangat besar. Masyarakat kecil biasanya acuh tak acuh terhadap pilkada ataupun pemilu. Dengan alasan, “Untuk apa peduli terhadap pilkada atau pemilu, toh tidak akan membawa perubahan apapun kepada orang kecil.”

  1. Rawan

pendidikan politik

Pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat juga masih sangat rawan. Ada dampak positif dan juga negatifnya. Di satu sisi mungkin rakyat bisa berpartisipasi secara langsung, tapi di sisi lain bisa membuat anggaran biaya untuk politik menjadi semakin membengkak. Namun yang paling dikhawatirkan adalah timbulnya konflik di dalam masyarakat.

  1. Tidak Asal Coblos

pendidikan politik

Di lapangan, fakta membuktikan bahwa masih banyak rakyat yang asal coblos. Tidak pernah tahu siapa calon kepala daerahnya, tidak pernah mencari tahu tapi memilihnya. Tindakan asal mencoblos ini seperti sudah menjadi sebuah budaya di kalangan masyrakat awam Indonesia.

Padahal sejatinya, pilkada atau pemilu ini bukanlah kuis tebak-tebakan berhadiah. Karena siapapun yang akan menjadi pemimpin nantinya, akan bertanggungjawab atas daerah yang dimenangkan. Kebanyakan pula hanya mementingkan diri sendiri, bahkan sebuah tempat ibadah dan berbagai pusat kebutuhan masjid yang ada pada daerah tersebut juga tidak terpantau. Justru fasilitas tersebut yang harus diutamakan yang nantinya dapat membawa masyarakat ke dalam republik keagamaan yang harmonis. Oleh sebab itu, maka sudah seharusnya pendidikan politik menjelang pilkada ini diterapkan. Khususnya kepada masyarakat menengah ke bawah.

Add Comment